Main Article Content

Abstract

Studi ini mengeksplorasi peran Galeri Seni Vinautism (VAG) sebagai ruang inklusif yang mendukung ekspresi artistik individu penyandang autisme. Menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan empat informan, observasi langsung, dan dokumentasi kegiatan operasional galeri selama tiga bulan penelitian yang berlangsung di Surabaya, Indonesia, pada Maret hingga Mei 2024. Temuan penelitian menunjukkan bahwa VAG tidak hanya berfungsi sebagai wadah kreatif, tetapi juga sebagai ruang terapi non-medis, pusat pembelajaran, dan platform pemberdayaan sosial serta ekonomi bagi anak-anak berkebutuhan khusus. Metode pengajaran yang bersifat personal dan adaptif memungkinkan setiap peserta untuk menyalurkan emosi dan mengembangkan potensi artistiknya. Keterlibatan aktif keluarga dan masyarakat juga memperkuat dukungan sosial yang berkelanjutan dalam ekosistem galeri. VAG berhasil membangun persepsi positif publik terhadap individu autis melalui pameran dan program edukasi rutin. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tantangan dan peluang yang dihadapi dalam menciptakan ruang seni inklusif bagi individu autis dan memberikan kontribusi empiris dalam pengembangan praktik ruang seni inklusif di Indonesia. Temuan ini menegaskan pentingnya ruang seni inklusif sebagai bagian integral dari sistem pendukung bagi individu penyandang autisme dan memberikan kontribusi dalam pengembangan strategi inklusi sosial yang lebih manusiawi dan berkelanjutan melalui seni.

Keywords

Autisme Inklusivitas Galeri seni

Article Details

How to Cite
Azzahra, T., & Suharto, B. (2025). Ruang Inklusif Terbatas?: Vinautism Art Galllery dan Dinamikanya dalam Mengakomodasi Ekspresi Individu Autis. Jurnal Pendidikan Kebutuhan Khusus, 9(2), 196–204. https://doi.org/10.24036/jpkk.v9i2.1399

References

  1. Asosiasi Psikiatri Amerika. (2022). Manual diagnostik dan statistik gangguan jiwa (Edisi ke-5, revisi teks). American Psychiatric Publishing.
  2. Arifin, Z. (2011). Penelitian pendidikan: Metode dan paradigma baru. Remaja Rosdakarya.
  3. Baron-Cohen, S., Auyeung, B., Ashwin, E., Knickmeyer, R., Lombardo, M., & Chakrabarti, B. (2011). The extreme male brain theory of autism: The role of fetal androgen in the development of autism spectrum disorders. Psychological Medicine, 41(6), 1125-1135. https://doi.org/10.1017/S0033291710001551
  4. Kant, I. (2000). Critique of the power of judgment. Cambridge University Press.
  5. Moleong, J. L. (2021). Metode penelitian kualitatif (Edisi revisi). Remaja Rosdakarya.
  6. Moat, D. (2013). An integrative psychotherapy approach to autism spectrum disorder: Working with the heart that shatters. Jessica Kingsley Publishers.
  7. Priebe, S., Savill, M., Wykes, T., Bentall, R., Lauber, C., Reininghaus, U., McCrone, P., Mosweu, I., Bremner, S., Eldridge, S., & Röhricht, F. (2016). Clinical effectiveness and cost-effectiveness of body-oriented psychotherapy in the treatment of negative symptoms of schizophrenia: A multisite randomized controlled trial. Health Technology Assessment, 20(11), 1–100. https://doi.org/10.3310/hta20110
  8. Richardson, J. F. (2016). Art therapy with children on the autism spectrum: Engaging with the arts in the therapeutic process. In D. E. Gussak & M. L. Rosal (Eds.), The Wiley handbook of art therapy (pp. 306–316). Wiley Blackwell.
  9. Shafir, T., Orkibi, H., Baker, F. A., Gussak, D., & Kaimal, G. (2020). Editorial: The state of art in creative arts therapy. Frontiers in Psychology, 11, 68. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2020.00068
  10. TFR.berita. (2023, March 15). Seni rupa minim inklusi bagi difabel, gelar Open Arms program gaet aktivisme dan ruang seni. TFR News. https://tfr.news/berita/id/dengar-pendapat-dan-diskusi-terpumpun-seni-dan-disabilitas-tangan-terbuka

Similar Articles

You may also start an advanced similarity search for this article.